Laporan RESPON ORGANISME AKUATIK TERHADAP VARIABEL LINGKUNGAN
RESPON ORGANISME AKUATIK TERHADAP VARIABEL
LINGKUNGAN
(Laporan
Praktikum Fisiologi Hewan Air)
Oleh
:
Boy Apriliawan
1614201010
![]() |
PROGRAM STUDI
SUMBERDAYA AKUATIK
JURUSAN
PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2018
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Praktikum : Respon Organisme Akuatik Terhadap Variabel Lingkungan
Tempat
Praktikum : Laboratorium Perikanan dan
Kelautan (Gedung K)
Tanggal
Praktikum : 7 September 2018
Nama : Boy Apriliawan
NPM : 1614201010
Program
Studi : Sumberdaya Akuatik
Jurusan : Perikanan dan Kelautan
Fakultas : Pertanian
Universitas : Lampung
Kelompok : 1 (Satu)
Bandar Lampung, 13 September 2018
Mengetahui,
Asisten
Adil Faadhilah
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Ikan merupakan organisme akuatik
yang sebagian atau seluruh hidupnya di lingkungan perairan air tawar, payau
maupun laut. Organisme akuatik akan sering sekali menghadapi kondisi lingkungan
yang sering sekali mengalami fluktuasi, baik karena faktor alam, maupun karena
aktivitas manusia. Perubahan lingkungan inilah yang harus dihadapi dan
disiasati oleh organisme akuatik agar mampu bertahan hidup. Organisme akuatik
akan memberikan respon yang bermacam-macam, tergantung pada jenis ataupun
kondisi perubahan lingkungan yang sedang dihadapi.
Secara umum, habitat ikan terdiri
dari faktor biotik dan abiotik, yang semuanya saling berinteraksi satu sama
lain membentuk suatu ekosistem perairan yang seimbang. Ketika salah satu faktor
diganggu, maka faktor yang lain juga mengalami gangguan. Sehingga otomatis,
ketika habitat perairan tempat ikan hidup diberi perlakuan, maka ikan yang berada
di perairan tersebut akan melakukan perubahan-perubahan sistem dan perubahan
fisiologis di dalam tubuh masing masing individu agar mampu menyesuaikan diri
dengan kondisi perairan yang baru agar mampu bertahan hidup. Besarnya upaya
untuk mempertahankan kondisi yang stabil tentunya membutuhkan cukup banyak energi.
Respon yang terjadi dalam tubuh
organisme akuatik sehubungan dengan adanya perubahan lingkungan yang dapat
berupa respon biokimia, respon struktur sel, respon fisiologis dan tingkah laku
pada suatu organisme (ikan). Melalui praktikum ini, maka akan diketahui jenis
respon yang diberikan oleh organisme akuatik ketika diberikan berbagai macam
perlakuan lingkungan perairan yang berbeda-beda.
1.2
Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum yaitu untuk mengetahui
respon organisme akuatik (ikan) terhadap variabel lingkungan (suhu, pH, dan deterjen)
serta untuk mengetahui kisaran toleransi organisme akuatik terhadap variabel
tersebut.
II. TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Biologis Ikan Nila
Ikan
nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan yang berasal dari
sungai nila dan danau-danau yang menghubungkan sungai tersebut. Ikan nila
didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar
pada tahun 1969, bibit ikan nila yang ada di Indonesia berasal dari Taiwan
adapun dengan ciri berwarna gelap dengan garis-garis vertikal seanyak 6-8 buah
dan Filipina yang berwarna merah (Saanin, 2014).
2.1.1
Morfologi
dan Klasifikasi
Ikan nila (Oreochromis
nilotica) memiliki ciri morfologi, yaitu berjari-jari
keras,
sirip perut torasik,
letak mulut subterminal
dan berbentuk meruncing. Selain itu, tanda lainnya yang dapat dilihat dari ikan nila adalah warna tubuhnya hitam dan agak keputihan. Bagian bawah tutup insang
berwarna putih, sedangkan pada nila lokal, putih agak kehitaman bahkan ada yang
kuning. Sisik ikan nila besar, kasar dan tersusun rapi. Sepertiga sisik belakang menutupi sisi bagian depan. Tubuhnya memiliki garis linea
lateris yang terputus antara bagian atas dan bawahnya. Line lateralis bagian atas memanjang mulai dari tutup insang
hingga belakang sirip punggung
sampai pangkal sirip ekor. Ukuran kepalanya relative kecil dengan mulut berada di ujung kepala serta mempunyai mata yang besar
(Kottelat, 2013).
Ikan
nila memiliki karakteristik sebagai ikan parental care yang merawat anaknya
dengan menggunakan mulut (mouth breeder).
Ikan ini dicirikan dengan garis vertikal yang berwarna gelap pada sirip
ekornya sebanyak 6 buah. Selain pada sirip ekor, garis tersebut juga terdapat
pada sirip punggung dan sirip anal (Odum, 2012).
Menurut Saanin (2014), klasifikasi
ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum :
Vertebrata
Kelas
: Osteichtes
Sub Kelas :
Acanthoptherigii
Ordo
:
Percomorphii
Sub Ordo : Percoidae
Famili
:
Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies
: Oreochromis niloticus
2.1.2 Taksonomi Ikan Nila
Ikan nila pada umumnya mempunyai
bentuk tubuh panjang dan ramping, perbandingan antara panjang dan tinggi badan
rata-rata 3 : 1. Sisik-sisik ikan nila berukuran besar dan kasar. Ikan nila
berjari sirip keras, sirip perut torasik, letak mulut subterminal dan berbentuk
meruncing. Selain itu, tanda lainnya yang dapat dilihat adalah dari ikan nila
adalah warna tubuhnya yang hitam dan agak keputihan. Bagian bawah tutup insang
berwarna putih, sedangkan pada nila lokal putih agak kehitaman bahkan ada yang
kuning. Sisik ikan nila besar, kasar, dan tersusun rapi. Sepertiga sisik
belakang menutupi sisi bagian depan. Tubuhnya memiliki garis linea lateralis
yang terputus antara bagian atas dan bawahnya. Linea lateralis bagian atas
memanjang mulai dari tutup insang hingga belakang sirip punggung sampai pangkal
sirip ekor. Ukuran kepalanya relatif kecil dengan mulut berada di ujung kepala
serta mempunyai mata yang besar (Affandi. R, 2010).
Seperti halnya ikan nila yang lain,
jenis kelamin ikan nila yang masih kecil, belum tampak dengan jelas.
Perbedaannya dapat diamati dengan jelas setelah bobot badannya mencapai 50
gram. Ikan nila yang berumur 4-5 bulan (100-150 g) sudah mulai kawin dan
bertelur Tanda-tanda ikan nila jantan adalah warna badan lebih gelap dari ikan
betina, alat kelamin berupa tonjolan (papila) di belakang lubang anus, dan
tulang rahang melebar ke belakang. Sedangkan tanda-tanda ikan nila betina
adalah alat kelamin berupa tonjolan di belakang anus, dimana terdapat 2 lubang.
Lubang yang di depan untuk mengeluarkan telur, sedang yang di belakang untuk
mengeluarkan air seni dan bila telah mengandung telur yang masak,dan perutnya
tampak membesar (Trewavas, 2012).
2.1.3
Habitat Ikan Nila
Ikan nila merupakan ikan tropis yang
menyukai perairan yang dangkal. Ikan nila dikenal sebagai ikan yang tahan
terhadap perubahan lingkungan tempat hidupnya. Nila hidup di lingkungan air
tawar, air payau, dan air asin. Kadar garam air yang disukai antara 0-35 ppt.
Ikan nila air tawar dapat dipindahkan ke air asin dengan proses adaptasi
bertahap. Kadar garam air dinaikkan sedikit demi sedikit. Pemindahan ikan nila
secara mendadak ke dalam air yang kadar garamnya yang sangat berbeda sehingga dapat
mengakibatkan stress dan kematian ikan (Arinandi O.H, 2009).
Tempat hidup Ikan nila biasanya
berada pada perairan yang dangkal dengan arus yang tidak begitu deras, ikan ini
tidak suka hidup di perairan yang bergerak (mengalir),akan tetapi jika
dilakukan perlakuan terhadap ikan nila seperti pengadaptasian terhadap
lingkungan air yang mengalir maka ikan nila juga bisa hidup baik pada perairan
yang mengalir (Jefkhins and Frank, 2013).
Lingkungan tumbuh (habitat) yang
paling ideal adalah perairan air tawar yang memiliki suhu antara 14˚C – 38˚C,
atau suhu optimal 25˚C – 30˚C. Keadaan suhu yang rendah yaitu suhu kurang dari
14˚C ataupun suhu yang terlalu tinggi di atas 30˚C akan menghambat pertumbuhan
nila. Ikan nila memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan hidup.
Batas bawah dan batas atas suhu yang mematikan ikan nila berturut-turut adalah
11-12˚C dan 42˚C. Keadaan pH air antara 5 – 11 dapat ditoleransi oleh ikan
nila, tetapi pH yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan ikan ini
adalah 7- 8. Ikan nila masih dapat tumbuh dalam keadaan air asin pada salinitas
0-35 ppt. Oleh karena itu, ikan nila dapat dibudidayakan di perairan payau,
tambak dan perairan laut, terutama untuk tujuan usaha pembesaran (Damayanti,
2013).
2.1.4
Siklus Hidup Ikan Nila
Siklus hidup ikan nila merah melewati lima fase kehidupan,
yaitu telur, larva, benih, konsums dan induk. Ciri setiap fase berubah.
Demikian juga dengan bentuk dan ukuran tubuh serta sifat-sifatnya. Semua fase
dilewati dalam waktu yang berbeda-beda. Dari semua fase, konsumsi merpakan
suatu fase komersil pada sebuah usaha. Telur merupakan fase awal kehidupan nila
merah, dimana bakal anak itu baru dikeluarkan induknya. Fase ini dicirikan
dengan bentuknya yang bulat, berwarna kuning dan bersifat tidak melekat. Telur
nila merah berdiameter antara 2 – 2,5 mm. setiap butir memiliki berat rata-rata
0,02 mg (Kordi, 2014).
Fase telur
merupakan masa kritis dan dilewati selama 6 – 7 hari atau tergantung suhu air,
kemudian berubah menjadi fase larva yang masih memiliki kuning telur atau
makanan cadangan. Fase itu dilewati selama 2 – 3 hari. Selama fase itu tidak
memerlukan pakan dari luar, tetapi akan menghabiskan makanan cadangan itu. Dari
larva berubah menjadi fase benih. Panjang dan berat tubuh berubah setiap saat.
Dalam sebulan larva berubah menjadi benih berukuran panjang antara 2 – 3 cm
dengan berat antara 0,8 – 1,2 gram. Sebulan kemudian panjang dan beratnya
berubah menjadi 4 – 8 cm dengan berat antara 3 – 6 gram (Tunas, 2015).
2.2
Variabel Lingkungan
2.2.1
Suhu
Suhu air dapat mengendalikan
peneluran dan penetasan makhluk-makhluk air, mengatur kegiatannya serta
merangsang atau menekan pertumbuhan dan perkembangannya. Air yang hangat
pada umumnya akan memacu metabolisme, sedangkan air yang yang relatif dingin
pada umumnya akan mengendurkan aktivitas organisme air (Abell P.D, 2009).
Suhu berpengaruh pada kejenuhan
(kapasitas air menyerap oksigen). Makin tinggi suhu maka, makin sedikit oksigen
dapat larut. Suhu air sangat berperan untuk kenyamanan ikan. Suhu berpengaruh
terhadap keberadaan suatu spesies dan keadaan seluruh kehidupan komunitas
cenderung bervariasi dengan berubahnya suhu. Suhu dapat menjadi suatu faktor
pembatas bagi beberapa fungsi biologis hewan air seperti migrasi, pemijahan,
efisiensi makanan, kecepatan renang, perkembangan embrio, dan kecepatan metabolism
(Goddard S, 2009).
Suhu pada air mempengaruhi kecepatan
reaksi kimia, baik dalam media luar maupun air (cairan) dalam tubuh ikan. Suhu
makin naik maka reaksi kimia akan makin cepat, sedangkan konsentrasi gas dalam
air akan makin turun, termasuk oksigen. Akibatnya, ikan akan membuat reaksi
toleran atau tidak toleran (sakit sampai mati). Ikan merupakan binatang
berdarah dingin, sehingga metabolisme dalam tubuh tergantung pada suhu
lingkungannya, termasuk kekebalan tubuhnya. Suhu luar atau eksternal yang
berfluktuasi terlalu besar akan berpengaruh pada sistem metabolism. Konsumsi
oksigen dan fisiologi tubuh ikan akan mengalami kerusakan atau kekacauan
sehingga ikan akan sakit. Suhu rendah akan mengurangi imunitas (kekebalan
tubuh) ikan, sedangkan suhu tinggi akan mempercepat ikan terkena infeksi
bakteri. Pengaruh aklimatisasi atau adaptasi dapat ditoleransi oleh ikan
tertentu. Penurunan atau kenaikan suhu yang terjadi perlahan-lahan tidak akan
terlalu membahayakan ikan. Sementara perubahan yang terjadi secara tiba-tiba
akan membuat ikan stress. Akibatnya, ikan menjadi stres, tidak ada keseimbangan
dan menurun sistem sarafnya (Taryono, 2008).
2.2.2
Surfaktan Deterjen
Kekeruhan
menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan cahaya yang
diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan
disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan yang
terlarut. Kekeruhan yang tinggi dapat menyebabkan terganggunya sistem
osmoregulasi, misalnya pernafasan dan daya lihat organisme akuatik, serta dapat
menghambat penetrasi cahaya ke dalam air (Effendi,
2012).
Detergen merupakan pembersih sintetis yang terbuat dari bahan-bahan turunan
minyak bumi. Dibanding dengan sabun, detergen mempunyai keunggulan antara lain
mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air.
Pada umumnya, detergen mengandung surfaktan, builder, filler dan additives (Jerold W. Jones,
2011).
Detergen merupakan suatu bahan kimia organik sintesis yang dapat bereaksi
dengan air dan menyebabkan pembentukan busa serta pengaruh lainnya yang
memungkinkan untuk membersihkan atau mencuci, baik dalam industri ataupun untuk
tujuan rumah tangga. Detergen menimbulkan buih-buih pada
permukaan air. Buih-buih yang menutupi permukaan air tersebut, baik dari jenis Linier
Alkylsulfonate (LAS) yang biodegradable maupun jenis Alkyl Benzene
Sulfonate (ABS) yang
non-biodegradable tersebut dipastikan dapat mengganggu kehidupan organisme
yang ada di bawahnya misalnya ikan (Lehninger, 2010).
2.2.3
pH
Setiap
jenis ikan memiliki kemampuan toleransi yang berbeda terhadap pH. Bahkan, ikan
dewasa akan lebih baik toleransinya terhadap pH dibanding ikan ukuran lebih
kecil, larva, ataupun telur. Selain itu, setiap jenis ikan memiliki nilai pH
optimal tergantung asal atau habitat aslinya. Pada lingkungan yang berubah
terlalu asam atau tidak tertoleransi di bawah 5,5 atau terlalu alkali atau di
atas 8,0 maka akan terjadi reaksi di dalam tubuh ikan sehingga mempengaruhi
perilakunya. Perubahan pH secara mendadak akan menyebabkan ikan meloncat-loncat
atau berenang sangat cepat dan tampak seperti kekurangan oksigen hingga mati
mendadak. Sementara perubahan pH secara perlahan akan menyebabkan lendir keluar
berlebihan, kulit menjadi keputiihan dan mudah terkena bakteri (Lesmana Darti,
2012).
Menyebutkan bahwa masing-masing
organisme mempunyai kemampuan yang berbeda untuk mentolerannsi pH perairan
tergantung dari suhu, oksigen terlarut, adanya aktifitas kation, dan anion
serta aktifitas biologi. Perubahan asam atau basa di perairan laut dapat
mengganggu sistem keseimbangan ekologi. Sebagian besar material-material yang
bersifat racun akan meningkat toksik-sitasnya pada kondisi pH rendah (Setiawan,
2008).
Daya tahan tubuh organisme
dipengaruhi oleh keseimbangan osmotik antara cairan tubuh dengan lingkungan
hidupnya. Pengaturan osmotik ini dilakukan melalui mekanisme osmoregulasi.
Mekanisme ini dapat dinyatakan sebagai pengaturan keseimbangan total
konsentrasi elektrolit yang terlarut dalam air media hidup organisme (Affandi
dan Tang, 2010).
III.
METODELOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu
dan Tempat
Adapun waktu dilaksanakannya
praktikum ini yaitu pada hari Jum’at, 07 September 2018, pukul 09.30-11.30 WIB
dan bertempatkan di Ruang Laboratorium Perikanan dan Kelautan (Gedung K)
Universitas Lampung.
3.2 Alat
dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan
pada saat praktikum ini ialah akuarium/stoples kaca, aerator, thermometer,
pH-meter, timbangan digital, air, heater, lap, pengaduk, tisu, stopwatch,
terminal listrik, selang, buku catatan dan ikan nila, es batu, air panas,
aquadesh, serta surfaktan deterjen.
3.3 Cara
Kerja
3.3.1
Adaptasi Organisme Akuatik Terhadap
Suhu
Pengamatan
respon organisme terhadap suhu perlu disiapkan terlebih dahulu 4 buah akuarium
yang diisi 3 liter air. Akuarium 1,2,
dan 3 untuk perlakuan berbeda ( 10OC),
20OC, 40OC)
sedangkan akuarium 4 untuk perlakuan gradual. Sebelumnya ikan ditimbang dan
dicatat bobot awalnya dengan menggunakan timbangan digital. Siapkan media air berupa air es dan air panas
untuk masing-masing perlakuan. Kemudian
siapkan lagi heater dan aerator pada masing-masing akauarium lalu ikan yang
telah ditimbang bobot awalnya di masukkan dalam akuarium secara
bersama-sama. Upayakan suhu dalam
akuarium tetap stabil sesuai dengan perlakuan.
Kemudian diamati setiap 10 menit dan dicatat ikan uji yang mati selama
percobaan. Timbang bobot akhir ikan uji.
3.3.2
Adaptasi
Organisme Terhadap pH
Pengamatan organisme terhadap pH perlu
disiapkan terlebih dahulu 5 buah akuarium yang diisi 3 liter air dengan
begbagai tingkat pH yang berbeda sebagai
tempat untuk uji coba.Akuarium 1,2, dan 3 untuk perlakuan yang berbeda (asam
:5 dan 6;basa : 8 dan 9), sedangkan akuarium 4 dan 5 untuk perlakuan gradual.
Sebelumnya
ikan ditimbang terlebih dahulu dan dicatat bobot awalnya dengam menggunakan
timbangan digital. Siapkan HCl, NaOH, dan aerator untuk masing-masing perlakuan
lalu masukkan ikan ke dalam akuarium secara bersama-sama. Kemudian diamati
setiap 10 menit dan dicatat ikan uji yang mati selama percobaan. Timbang bobot akhir ikan uji.
3.3.3
Adaptasi
Organisme Akuatik Tehadap Surfaktan Deterjen
Pengamatan respon organisme akuatik
terhadap surfaktan deterjen perlu disiapkan 4 buah akuarium yang diisi air 3
liter dengan pemberian surfaktan deterjen
yang berbeda sebagai tempat untuk uji coba. Akuarium 1,2, dan 3 untuk
perlakuan yang berbeda (tambahkan surfaktan deterjen sebanyak 1 gr, 3 gr dan 6
gr) , sedangkan akuarium 4 untuk perlakuan gradual.
Sebelumnya
ikan ditimbang terlebih dahulu dan dicatat bobot awalnya dengan menggunakan
timbangan digital. Siapkan deterjen yang sudah dilarutkan dengan 1 liter air
dari akuarium untuk masing-masing perlakuan. Kemudian siapkan aerator pada
masing-masing akuarium, lalu ikan dimasukan dalam akuarium secara bersama-sama.
Kemudian diamati setiap 10 menit dan dicatat jumlah hewan uji yang mati selama
percobaan. Timbang bobot akhir dari hewan uji tiap akuarium.
Setelah
itu dihitung ketahanan hidupnya (survival
rate) ikan tersebut dan angka kematian (mortalitas) dengan rumus Keterangan
:
SR : Survival rate
Dan
Ket:
Nt : Jumlah ikan yang hidup
No
: Jumlah awal ikan
M
: Mortalitas
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan
4.1.1
Tabel Tingkah Laku Ikan Terhadap Variabel Suhu
|
Perlakuan
|
Menit ke
|
TL/ BO
|
SR(%)
|
M(%)
|
Keterangan
|
|
Kelompok 2
40 oC
|
10
|
-Hilang keseimbangan
-Berenang di permukaan
-Warna pucat
-Mengeluarkan feses / 36
|
100%
|
0%
|
Ikan hidup semua
|
|
20 oC
|
20
|
-Gerakan teratur dan lebih tenang
-Warna ikan berubah (menghitam) / 32
|
80%
|
20%
|
1 ikan mati dan 4
ikan yang masih hidup
|
|
10 oC
|
30
|
-Warna gelap
-Berenang didasar
-Lebih tenang/ 9
|
60%
|
40%
|
2 ikan mati dan 3
ikan yang masih hidup
|
|
Kelompok 1
20 oC
|
10
|
-Bergerak pasif, terombang ambing /77
|
100%
|
0%
|
Ikan hidup semua
|
|
20
|
-Keaktifan menurun / 71
|
||||
|
30
|
-Ikan pasif / 62
|
||||
|
10oC
|
10
|
-Warna pucat tidak bergerak / 25
|
100%
|
0%
|
Ikan hidup semua
|
|
|
20
|
-Sedikit bergerak
-Pasif warna pucat
-Mulai aktif bergerak / 22
|
|
|
|
|
30
|
- Pasif dan pucat
-Mulai aktif berenang/ 20
|
||||
|
40 oC
|
10
|
-Warna tetap, pergerakan aktif/ 102
|
100%
|
0%
|
Ikan hidup semua
|
|
20
|
- Warna tetap, pergerakan aktif/100
|
||||
|
30
|
-Warna kecoklatan
-Pergerakan aktif/103
|
4.1.2
Tabel Tingkah Laku Ikan Terhadap Variabel pH
|
Perlakuan
|
Menit ke
|
TL/BO
|
SR(%)
|
M(%)
|
Keterangan
|
|
Kelompok 3
pH 5
|
10
|
- Berenang di dasar
- Lemas /111
|
100%
|
0%
|
Ikan hidup semua
|
|
20
|
- Warna pucat
- Warna merah pada
insang/ 95
|
||||
|
30
|
- Warna kemerahan
Perut mengempis
- Lemas/ 70
|
|
pH 6
|
10
|
- Berenang di kolom/
76
|
100%
|
0%
|
Ikan hidup semua
|
|
20
|
- Berenang dari bawah
ke atas
- Normal
seperti menit ke 10/ 56
|
||||
|
30
|
- berenang di bawah
- Sedikit lemas
- Perut mengempis/53
|
||||
|
pH 8
|
10
|
- Berenang di
kolom/126
|
100%
|
0%
|
Ikan hidup semua
|
|
20
|
- Berenang dari bawah
ke atas
- Normal
seperti menit ke 10 /117
|
||||
|
30
|
- Normal
- Perut mengempis/ 83
|
||||
|
Kelompok 4
pH 9
|
10
|
-Lemas/ 28
|
100%
|
0%
|
Ikan hidup semua
|
|
20
|
-Warna menjadi pucat
-Pasif / 26
|
||||
|
30
|
-3 ikan pasif dan
sirip jarang bergerak
-2 ikan pasif dan
sirip bergerak
-Lemas / 18
|
||||
|
pH gradual (5-9)
|
10
|
-Pergerakan ikan
stabil /66
|
100%
|
0%
|
Ikan hidup semua
|
|
20
|
-Lemas dan pasif /65
|
||||
|
30
|
-Ikan berada di dasar/
47
|
4.1.3
Tabel Tingkah Laku Ikan Terhadap Variabel Surfaktan Detergen
|
Perlakuan
|
Menit ke
|
TL/BO
|
SR(%)
|
M(%)
|
Keterangan
|
|
Kelompok 5
1 gr surfaktan
|
10
|
-Ikan melemah
-Warna ikan pucat /42
|
100%
|
0%
|
Ikan hidup semua
|
|
20
|
-Ikan lebih tenang
-Ikan memuntahkan mukus / 38
|
||||
|
30
|
-Ikan mengeluarkan lendir
-Lebih tenang dan tidak berenang diatas permukaan/ 32
|
||||
|
3 gr surfaktan
|
10
|
-Ikan lemah
-Warna ikan pucat/ 53
|
0%
|
100%
|
5 Ikan mati semua
|
|
20
|
-Warna ikan semakin pucat
- Berenang kedasar dan lebih tenang/ 36
|
||||
|
30
|
-Mukus menggumpal
-Kulit sedikit mengelupas
-Keluar darah / 12
-Ikan mati
|
||||
|
6 gr surfaktan
|
10
|
-Ikan melemah
-Warna pucat
- Ikan tidak bergerak aktif /47
|
0%
|
100%
|
5 ikan mati semua
|
|
20
|
-Ikan mengeluarkan lendir /28
|
||||
|
30
|
-Ikan mengeluarkan darah / 12
-Ikan mati
|
||||
|
Gradual surfaktan
|
10
|
-Ikan berenang aktif/76
|
100%
|
0%
|
Ikan hidup semua
|
|
20
|
-Ikan lemah dan berwarna pucat / 69
|
||||
|
30
|
-Ikan mengeluarkan mucus
-Ikan lebih tenang dan berenang ke bawah
-Ikan dapat menyesuaikan diri/ 58
|
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pembahasan Tabel
Pada perlakuan suhu dingin dan panas memberikan
pengaruh terhadap bobot ikan yang bisa dilihat pada tabel. Bobot ikan mengalami
penurunan akibat respon ikan terhadap lingkungannya yang baru dan adanya
aktivitas yang berlebihan dalam rangka beradaptasi terhadap lingkungan yang
baru. Suhu yang rendah akan menghambat
proses fisiologis bahkan menyebabkan ikan mengalami kematian atau tidak sadar karena
proses fisiologis yang menurun, sehingga
kandungan air dalam tubuh berkurang dan menyebabkan penurunan bobot
tubuh ikan (Effendi, 2003). Tingkah laku ikan pada suhu dingin lebih banyak
diam dan pingsan. Hal ini terjadi karena terhambatnya proses fisiologis ikan
sehingga ikan lebih banyak diam dan pingsan. Pada kelompok 1 di suhu 10oC,
20oC dan 40oC tidak mengalami mortalitas pada menit ke-10, 20 dan 30. Namun, pada suhu
10
oC
si ikan mengalami penurunan proses fisiologis sehingga menyebabkan
ketidaksadaran atau pingsan. Hal ini
sesuai dengan literatur bahwa pada suhu 10oC mengalami ketidaksadaran (pingsan) bahkan hingga
kematian. Hal ini berarti suhu 10oC merupakan kisaran toleransi yang menurunkan proses
fisiologis pada tubuh ikan (Effendi, 2003).
Sedangkan pada hasil praktikum kelompok 2, pada suhu 10oC
mengalami mortalitas sebesar 40%, suhu 20oC mengalami mortalitas
sebesar 20% dan pada suhu 40oC tidak mengalami mortalitas. Hal ini pun sesuai dengan literatur bahwa pada suhu 10oC mengalami ketidaksadaran (pingsan) bahkan hingga
kematian. Hal ini berarti suhu 10oC merupakan kisaran toleransi yang menurunkan proses
fisiologis pada tubuh ikan (Effendi, 2003). Hasil yang didapat pada kelompok 2
memiliki sedikit perbedaan terhadap kelompok 1. Diduga perbedaan tersebut
terjadi dikarenakan si ikan yang akan digunakan dalam praktikum mengalami
stress atau ketidakstabilan dalam kesehatannya, sehingga menyebabkan mortalitas
pada kelompok 2.
Pada perlakuan responsi ikan nila terhadap perubahan
pH, Pada pH asam bobot ikan dan bukaan operculum mengalami penurunan seperti
pada hasil kelompok 3 dan 4. Hal ini disebabkan
respon ikan terhadap pH asam serta adanya aktifitas fisiologis yang
berlebihan dalam rangka menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan cara
mengeluarkan lendir (Damayanti, 2013). Tingkah laku ikan yang paling terlihat pada praktikum yaitu ikan
mulai lemas, pergerakan menjadi pasif, warna pucat dan perut mengempis. Tingkat
kelangsungan hidup ikan pada kontrol sebesar 100%. Hal ini sesuai bahwa kisaran
pH perairan yang cocok antara 5 – 8,7. Pada kisaran pH tersebut cukup memenuhi
syarat untuk kehidupan ikan nila (Cahyono, 2011).
Surfaktan di dalam perairan dapat menimbulkan rusaknya
organ kemoreseptor, berubah pola makan, pertumbuhan lambat dan tingkat
kelangsungan hidup larva yang rendah (Abel, 1974). Menurut Williams J. (2008)
pada konsentrasi 5 mg/L Dodecylbenzene Sulfonate dapat menyebabkan
pengurangan epitel insang pada ikan. Pada konsentrasi yang sama, lamella insang
cenderung bersatu. Semakin besar konsentrasi surfaktan yang diberikan maka
semakin besar pula kerusakan sel epitelnya (Mangkoedihardjo, 2009). Bila
surfaktan deterjen tersebut sudah melebihi ambang batas bisa menyebabkan
kematian pada biota.
Pada hasil praktikum kelompok 5 menunjukkan bukaan
operculum mengalami penurunan, pada tingkat kadar detergen yang tinggi ikan
pada menit ke 30 sudah mati, pada insang mengalami pendarahan, pergerakan ikan melemah,
warna ikan memudar serta ikan mengeluarkan lendir akibat dari proses adaptasi.
Disamping itu, ikan mengalami difusi yang membuat lendir dalam tubuh keluar dan
bobot tubuh ikan yang cenderung bertambah. Hal tersebut sesuai dengan literatur
bahwa semakin besar konsentrasi surfaktan yang diberikan maka semakin besar
pula kerusakan sel epitelnya (Mangkoedihardjo, 2009).
4.2.2 Cara Kerja Yang Dilakukan
Cara kerja yang dilakukan cukup sesuai dengan apa yang
ditujukan oleh buku panduan yang diberikan dalam praktikum “Respon Organisme
Akuatik Terhadap Variabel Lingkungan”. Perlakuan pada praktikum bagian adaptasi
organisme terhadap suhu diawali dengan menyiapkan terlebih
dahulu 4 buah akuarium yang diisi 3 liter air.
Akuarium 1,2, dan 3 untuk perlakuan
berbeda ( 10OC), 20OC, 40OC) sedangkan akuarium 4 untuk
perlakuan gradual. Sebelumnya ikan ditimbang dan dicatat bobot awalnya dengan
menggunakan timbangan digital. Siapkan
media air berupa air es dan air panas untuk masing-masing perlakuan. Kemudian siapkan lagi heater dan aerator pada
masing-masing akauarium lalu ikan yang telah ditimbang bobot awalnya di
masukkan dalam akuarium secara bersama-sama.
Upayakan suhu dalam akuarium tetap stabil sesuai dengan perlakuan. Kemudian diamati setiap 10 menit dan dicatat
ikan uji yang mati selama percobaan.
Timbang bobot akhir ikan uji.
Pada
adaptasi organisme terhadap Ph diawali dengan menyiapkan terlebih dahulu 5 buah
akuarium yang diisi 3 liter air dengan begbagai tingkat Ph yang berbeda sebagai
tempat untuk uji coba.Akuarium 1,2, dan
3 untuk perlakuan yang berbeda (asam :5 dan 6;basa : 8 dan 9), sedangkan
akuarium 4 dan 5 untuk perlakuan gradual.
Sebelumnya ikan ditimbang terlebih dahulu dan dicatat bobot awalnya dengam
menggunakan timbangan digital. Siapkan HCl, NaOH, dan aerator untuk
masing-masing perlakuan lalu masukkan ikan ke dalam akuarium secara
bersama-sama. Kemudian diamati setiap 10 menit dan dicatat ikan uji yang mati
selama percobaan. Timbang bobot akhir
ikan uji.
Sedangkan
pada bagian adaptasi organisme akuatik terhadap surfaktan deterjen diawali
dengan menyiapkan 4 buah akuarium yang diisi air 3 liter dengan pemberian
surfaktan deterjen yang berbeda sebagai
tempat untuk uji coba. Akuarium 1,2, dan 3 untuk perlakuan yang berbeda
(tambahkan surfaktan deterjen sebanyak 1 gr, 3 gr dan 6 gr) , sedangkan
akuarium 4 untuk perlakuan gradual.
Sebelumnya
ikan ditimbang terlebih dahulu dan dicatat bobot awalnya dengan menggunakan
timbangan digital. Siapkan deterjen yang sudah dilarutkan dengan 1 liter air
dari akuarium untuk masing-masing perlakuan. Kemudian siapkan aerator pada
masing-masing akuarium, lalu ikan dimasukan dalam akuarium secara bersama-sama.
Kemudian diamati setiap 10 menit dan dicatat jumlah hewan uji yang mati selama
percobaan. Timbang bobot akhir dari hewan uji tiap akuarium. Setelah itu
dihitung ketahanan hidupnya (survival
rate) ikan tersebut dan angka kematian (mortalitas) dengan rumus yang
tercantum pada panduan praktikum.
4.2.3
Hasil Yang Didapat
Hasil yang di dapat pada praktikum ini ialah
bahwasanya adanya adaptasi dari setiap makhluk hidup terhadap variabel
lingkungan demi keberlangsungan kehidupan. Salah satu contoh yang di praktekkan
oleh praktikan ialah uji coba adaptasi ikan nila terhadap variabel lingkungan
berupa suhu, Ph, dan surfaktan deterjen. Dan hasil yang didapatkanpun cukup
sesuai dengan literatur maupun pernyataan yang telah ada, seperti pada suhu 10oC merupakan kisaran toleransi yang menurunkan proses
fisiologis pada tubuh ikan (Effendi, 2003). Selain itu, bahwa kisaran Ph
perairan yang cocok antara 5 – 8,7. Pada kisaran Ph tersebut cukup memenuhi
syarat untuk kehidupan ikan nila (Cahyono, 2011).
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun
beberapa kesimpulan yang didapat dari praktikum ini ialah:
1.
Hasil yang
didapatkanpun cukup sesuai dengan literatur maupun pernyataan yang telah ada,
seperti pada suhu 10oC merupakan kisaran toleransi yang menurunkan proses
fisiologis pada tubuh ikan (Effendi, 2003).
2.
Kesesuaian hasil praktikum terhadap literatur/pernyataan
bahwa kisaran Ph perairan yang cocok antara 5 – 8,7. Pada
kisaran Ph tersebut cukup memenuhi syarat untuk kehidupan ikan nila (Cahyono, 2011).
3.
Kesesuaian
dengan literatur bahwa semakin besar konsentrasi surfaktan yang diberikan maka
semakin besar pula kerusakan sel epitelnya atau penambahan bobot (Mangkoedihardjo,
2009).
5.2
Saran
Adapun saran yang dapat diajukan pada
praktikum ini yaitu, penambahan atau kelengkapan fasilitas, alat dan bahan yang
memadai guna mempermudah keberlangsungan segala kegiatan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi,
R., dan Tang, U. 2010. Fisiologi Hewan Air.University Riau Press. Riau.
217 p.
Abel,P.D.2009. Toxicity of
Synthethic Detergen to Fish Aquatik Invertebrates. J Fish.Biol; Vol:6. Page :
279-298
Arinardi, O. H. 2009. Pengaruh
Curah Hujan Terhadap Pertumbuhan Fitoplankton di Teluk Jakarta Pada Tahun
1978. dalam Penelitian Oseanologi Perairan Indonesia Buku I: Biologi,
Geologi, Lingkungan & Oseanologi. LIPI. Jakarta.
Cahyono, Bambang.2011.Budidaya Ikan diPerairan
Umum. Yogyakarta:Kanisius.
Damayanti, Lis. 2013. Pengaruh Salinitas Air
terhadap kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan benih Ikan Gurame (Osphronemus
goramy Lac). Skripsi. FPIK. Bogor.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi
Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Jakarta.
Effendi, H. 2012. Telaah Kualitas Air Bagi
Pengelolaan Sumberdaya dan
Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta. 258 p.
Goddard, S. 2009. Feed management in Intesive
Aquaculture. Chapman and Hail, New York. 1949.
Jefkins,
Frank. 2013, Public Relations. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Jerold
W. Jones dan Wilbert F. Stoecker. 2011. Refrigerasi dan Pengkondisian Udara.
McGraw-Hill, Inc.
Odum.
2012. Polusi Air dan Udara. Kanisius. Yogjakarta.
Kordi,
K. M. Ghufran. 2014. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Cetakan Pertama. PT
Rineka Cipta. Jakarta.
Kottelat,
M.A.J. Whitten., S.N. 2013. Kartikasari dan S.Wirjoatmodjo. Ikan air tawar
Idonesia bagian barat dan Sulawesi. Periplus editions.
Lehninger, A. L. 2010. Dasar-Dasar Biokimia jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Lesmana Darti S. 2012. Kualitas Air untuk Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mangkoedihardjo S. 2009. Ekotoksikologi Keteknikan. Jurusan Teknik Lingkungan, ITS, Surabaya.
Saanin. 2014. Taksonomi dan Kunci Ikan. Bina Cipta. Bandung.
Setiawan E. 2008. Diversifikasi produk tradisional kerupuk getas dari ikan lele (Clarias batrachus) dan ikan layur (Trichiurus spp.). [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Departemen Teknologi Hasil Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Taryono. 2008. Evaluasi Sumber Daya Tanah. Diktat Kuliah. Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Trewavas, E.2012. Tilapias: taxonomy and spesification. Di dalam: Biology and Culture of Tilapias (R.S.V Pullin and R.H. Lowe Mc Cannel eds.) ICLARM Conference Proceedings 7. Internationa Centre for Living Aquatic Resource Management. Manila, Filipina.
Tunas, Arthama Wayan.
2015. Patologi Ikan Toloestei. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Williams, J. 2009. Introduction to Marine
Pollution Control. New York: A Wiley Interscience Publication. 173 hal.
LAMPIRAN
|
No
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
1
|
![]() |
Kegiatan praktikum bagian
adaptasi organisme terhadap surfaktan deterjen
|
|
2
|
![]() |
Kegiatan praktikum bagian adaptasi
organisme terhadap suhu
|
|
3
|
![]() |
Es batu sebagai bahan dalam
kegiatan praktikum bagian adaptasi organisme terhadap suhu
|
|
4
|
![]() |
Proses menimbang berat total ikan
nila
|
|
5
|
![]() |
Terlihat beberapa ikan yang tidak
sadar (pingsan) dalam kegiatan praktikum bagian adaptasi organisme terhadap
suhu
|
|
Perlakuan
|
Menit ke
|
TL/ BO
|
SR(%)
|
M(%)
|
Wawal
|
Wakhir
|
|
|
Ikan
Mati
|
Ikan
Hidup
|
||||||
|
10˚C
|
10
|
-Warna
pucat tidak bergerak / 25
|
100%
|
0%
|
|
-
|
|
|
20
|
-Sedikit
bergerak
-Pasif
warna pucat
-Mulai
aktif bergerak / 22
|
100%
|
0%
|
|
-
|
|
|
|
30
|
- Pasif
dan pucat
-Mulai
aktif berenang/ 20
|
100%
|
0%
|
|
-
|
|
|
|
20˚C
|
10
|
-Bergerak pasif,
terombang ambing /77
|
100%
|
0%
|
|
-
|
|
|
20
|
-Keaktifan
menurun / 71
|
100%
|
0%
|
|
-
|
|
|
|
30
|
-Ikan pasif / 62
|
100%
|
0%
|
|
-
|
|
|
|
40˚C
|
10
|
-Warna tetap,
pergerakan aktif/ 102
|
100%
|
0%
|
|
-
|
|
|
20
|
- Warna tetap,
pergerakan aktif/100
|
100%
|
0%
|
|
-
|
|
|
|
30
|
-Warna kecoklatan
-Pergerakan
aktif/103
|
100%
|
0%
|
|
-
|
|
|






Komentar
Posting Komentar